NEWS UPDATE :
Assalamu'alaikum,..sahabat. Terima kasih atas kunjungannya di blog media PKS Tambora. Semoga apa yang disajikan disini bermanfaat untuk anda, dan juga jalinan ukhuwah ini berkelanjutan... ■ Kabar Gembira! Kini sudah dibuka Pendaftaran Anggota Baru PKS untuk Anda, Silakan hubungi Pengurus Cabang ataupun Pengurus Ranting di kelurahan masing-masing ■ Do'akan agar PKS Terus Bekerja Untuk Indonesia ■ dengan Cinta. semangat Kerja. hadirkan Harmoni. ■ Apapun Yang Terjadi Kita Tetap Melayani #AYTKTM ■ PKS Selalu Dekat dan Melayani ■ Kobarkan Semangat Indonesia ■ Jangan lupa, 9 April 2014, pilih dan coblos PKS nomor TIGA ■ Admin menerima tulisan dari pembaca berupa tausiah, nasehat, opini, hikmah, inspirasi, resensi, motivasi, info kegiatan, acara, profil tokoh, dengan cara mengirimkannya ke alamat email: media.tambora@gmail.com ■ Terima Kasih

KABAR PKS TERKINI

« »

LIPUTAN

MOTIVASI

OASE

CATATAN MEDIA

POSTINGAN TERBARU:

Tampilkan postingan dengan label OASE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OASE. Tampilkan semua postingan

Inilah Pengejawantahan Cinta Kita

10/11/13

Oleh Anis Matta

PKS Tambora - Tidak ada kebaikan yang dapat kita semaikan ditengah masyarakat, kecuali apabila kita memulai persentuhan kita dengan lingkungan sosial di mana kita berada dengan cinta. Cinta adalah energi jiwa yang dahsyat, yang bukan saja bisa menjadi rahim yang melahirkan keharmonisan dalam rumah tangga, tempat kerja, dan organisasi, tetapi jua dalam masyarakat, bahkan bangsa dan kemanusiaan. Cinta mencerahkan kehidupan kita, dan menjadikannya nyaman untuk diresapi. Cinta adalah kumpulan dari semua keinginan baik kepada orang lain. Karena, ia mengejawantah dalam beberapa sikap.

Pertama, perhatian.

Cinta mengejawantah dalam bentuk perhatian penuh yang kita berikan kepada objek yang kita cintai. Perhatian pada keadaanya yang sebenarnya; sisi kebaikan dan keburukannya; keindahan dan kejelekannya; kekuatan dan kelemahannya; kesedihan dan kegembiraannya; harapan dan kecemasannya; sejarah masa lalu dan impian masa depannya; ketakutan yang tersembunyi dalam dirinya; dan kebutuhan-kebutuhan jiwa, pikiran, dan fisiknya yang terungkap maupun tidak terungkap, untuk tumbuh dan berkembang.

Perhatian ini melahirkan  pemahaman, pengertian dan apresiasi yang mendalam terhadap objek yang dicintai, sekaligus melahirkan penerimaan yang wajar dan apa adanya. Sebab, apa yang kita pikirkan tentang objek itu bukanlah seperti apa kondisinya saat ini, tetapi apa yang dapat kita lakukan untuk membuatnya lebih baik.

Jadi, jika misalnya anda menyatakan anda mencintai istri anda, maka hal inilah yang pertama anda lakukan untuk dirinya; memperhatikannya secara seksama, untuk kemudian memahami, mengerti, mengapresiasi, dan menerima kondisinya secara wajar dan apa adanya. Hal ini juga berlaku terhada orang tua kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita, sahabat-sahabat kita dikantor, dan mereka yang ada dimasyarakat.

Kedua, penumbuhan.

Cinta selanjutnya mengejawantah dalam bentuk usaha-usaha menumbuhkan potensi kebaikan yang ada pada objek cinta, dan memaksimalkan pengrmbangan bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Cinta yang mengejawantah disini mengharuskan kita memfokuskan pandangan kita terhadap sisi-sisi positif yang ada pada objek cinta, serta menolong kita untuk bersikap optimis dan bekerja untuk mengembangkannya semaksimal mungkin.

Cinta pada tahap ini berarti bahwa kita berusaha memfasilitasi proses pertumbuhan dan perkembangan objek cinta, sehingga pada suatu rentang waktu tertentu dari masa pergaulan dan interaksinya dengan kita, ia menunjukkan kemajuan dan perbaikan dari masa sebelumnya.

Jadi, setelah melalui suatu usia tertentu dari masa perkawinan, jika anda benar-benar mencintai pasangan anda dengan cara yang benar, maka ia seharusnya tumbuh dan berkembang dengan segenap potensinya dan menjadi lebih baik daripada sebelum anda menikah dengannya. Demikian juga dengan anak-anak dan sahabat-sahabat kita. Mereka seharusnya menjadi lebih baik setelah bersentuhan dengan kita dalam pergaulan yang lama.

Ketiga, perawatan.

Seperti juga bunga, jika ia sudah tumbuh di taman hati kita, maka kita harus terus merawat, menyiram dengan air, dan memberinya sinar matahari, agar ia tidak layu dimakan waktu. Demikianlah juga cinta, ia mengejawantah dalam bentuk usaha-usaha kita untuk merawatnya, mempertahankan kehangatannya, geloranya, kedahsyatannya, dan pergerakannya; agar ia senantiasa menyala dan bersemi dalam jiwa.

Cinta pada tahap ini berarti bahwa kita berusaha untuk menyiram bunga cinta pada objek cinta kita dengan kebaikan-kebaikan. Sebab, cinta hanya tumbuh dan bersemi di atas tanah yang subur. Hal ini karena ia dipupuk dengan perbuatan-perbuatan baik, sikap-sikap bijaksana, serta tindakan-tindakan arif dan penuh kasih. Hal-hal tersebut berfungsi seperti air yang menyuburkan dan matahari yang menumbuhkan.

Begitulah kita mencintai istri, orang tua, anak-anak, sahabat dan yang lainnya. Bahwasannya kita tidak pernah berhenti mensuplai mereka dengan berbagai bentuk kebaikan, agar mereka tetap subur, hangat, dan kuat dalam rengkuhan cinta.

Keempat, perlindungan.

Seperti juga bunga di taman, ia bukan hanya memerlukan perawatan, tetapi juga perlindungan dari berbagai bentuk ancaman yang dapat mematikannya, seperti hama, penyakit, perusakan, dan yang lainnya. Demikianlah juga cinta. Cinta mengharuskan kita melindungi objek cinta kita dari semua sumber ancaman yang dapat mematikannya.

Cinta pada tahap ini berarti bahwa kita harus memberikan perlindungan fisik dan emosional serta spiritual kepada objek cinta kita, sehingga ia aman dari rasa takut dan cemas, bebas dari penderitaan dan kesengsaraan, selamat dari ketersesatan, serta hidup penuh harapan dan kegembiraan. Cinta pada tahap ini juga mengharuskan kita membiasakan diri memaafkan kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan terhadap kita. Seharusnya, orang-orang yang kita cintai merasakan hal tersebut sebagai pengejawantahan cinta kita.

Akan tetapi, cinta dalam pengertian seperti ini, yang mengejawantah dengan cara seperti ini, memang hanya bisa lahir dari pribadi-pribadi yang matang, yang memiliki kesabaran, kasih sayang, kemurahan hati, kelapangan dada, dan ketekunan. Walaupun demikian, hal tersebut bukanlah sesuatu yang tidak bisa dipelajari.




[Ditulis ulang dari buku ‘Dialog Peradaban, Refleksi Dua Ikon Perubahan, Mencipta Manusia Paripurna, hal 260-264]

5 Hal Yang Harus Dilatih Selama Ramadhan, Apa Saja?

10/07/13


Oleh KH Didin Hafidhuddin


Sebagaimana yang kita ketahui, di dalam Al-Quran, perintah untuk menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan terkandung di dalam Q.S. 2 ayat 183-187. Puasa di bulan Ramadhan merupakan kewajiban umat Islam dan ia merupakan salah satu rukun Islam. Ini menunjukkan urgensi ibadah puasa tersebut. Ramadhan merupakan bulan latihan (Syahru Tarbiyyah) dari pembiasaan amal-amal ibadah, pembiasaan amal-amal baik, dan pembiasaan amal shaleh. Sehingga, diharapkan segala amal ibadah dan amal shaleh ini akan masuk kepada struktur rohani kita.

Karena ajaran Islam bukan semata-mata pada aspek pikiran dan pengetahuan saja. Tapi ia juga meliputi hati dan amal perbuatan. Oleh karena itu kita harus kaffah (menyeluruh) di dalam menerapkan ajaran Islam ini, yakni pada seluruh aspek di dalam hidup kita. Yaitu mulai dari aspek hati (keyakinan, aqidah), ucapan, pikiran (pengetahuan), juga amal perbuatan. Maka itulah kaffah. Namun kaffah ini tentunya memerlukan proses. Untuk menjadi kaffah tidak instant. Ia melalui banyak tahapan.

Nah, ramadhan ini adalah tahapan kita untuk menjadi seorang Muslim yang kaffah, yang menyeluruh. Karenanya, mari kita manfaatkan ramadhan sebagai bulan untuk mendidik diri kita dalam beramal shaleh. Setidaknya ada 5 hal yang harus kita latih diri kita di bulan ramadhan ini, yaitu al-imsak (menahan), al-ikhlas, sabar, berbagi, dan disiplin.

Pertama, al-imsak (menahan)

Maksudnya adalah menahan makan menjelang subuh. Dalam H.R. Bukhari, waktu imsak kira-kira 50 ayat menuju adzan Subuh. Jadi, sekitar 10 menit menjelang adzan subuh, kita sudah selesai makan dan minum juga membersihkan mulut kita (menggosok gigi). Selain itu, al-imsak ini pun berarti menahan diri dari sesuatu yang tidak ada manfaatnya, baik ucapan maupun perbuatan. Kita jadikan ramadhan ini sebagai latihan diri sebagai pribadi yang produktif dan aktif di dalam kebaikan, sehingga kita dapat menjadi orang yang sukses. Tidak mungkin orang yang sukses menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang tiada manfaatnya. 

Menurut Imam Al-Ghazali, ada 3 jenis shaum, yaitu :
a.      Shaum awam, adalah shaum yang hanya menahan lapar dan haus saja. Kebanyakan kaum Muslim termasuk ke dalam golongan ini. Mereka berpuasa, tetapi mereka tidak mendapat apa-apa, selain lapar dan haus saja.
b.      Shaum khos (khusus), yaitu shaum yang tidak hanya menahan lapar dan haus saja, tapi juga menahan perbuatan dan ucapan yang tiada manfaatnya.
c.       Shaum khos bil khos (lebih khusus), yaitu shaum yang menahan lapar, haus, menahan diri dari perbuatan yang sia-sia, juga mencurahkan segala waktu, pikiran, tenaga, dan perbuatan hanya untuk kebaikan dan amal shaleh semata.

Jenis shaum yang terakhir inilah yang mrpkn shaum yang sbenar-benarnya shaum. Semoga kita bisa menjadi golongan shaum khos bil khos.

Jadi, inti dari ibadah shaum adalah pengendalian diri. Menahan dari segala sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Dan mencurahkan energi untuk kebaikan. Ibadah shaum ini mengajak kita untuk menahan diri dari perbuatan dosa, juga dekati berbuat dosa (QS 2: 187). Uniknya, perintah shaum ini dibingkai dengan dua kata takwa (di Q.S. 2 ayat 183 dan ayat 187). Ini menunjukkan bahwa ibadah shaum merupakan proses dalam rangka mencapai ketakwaan. Ia juga mengajarkan tentang kecintaan terhadap sesuatu yang harus dibingkai dengan kecintaan kepada Allah, benci pun harus karena Allah. Maka al-imsak ini meliputi segala hal, baik itu nikmat (harus bersyukur) dan juga ujian (harus bersabar). Juga sampai ibadah shaum kita hanya berhenti pada menahan makan dan minum saja. Tetapi lebih daripada itu.

Kedua, ramadhan mendidik tentang al-ikhlas (keikhlasan)

Suatu ibadah hanya diterima oleh Allah SWT jika didasari atas keikhlasan. “Setiap amal ibadah hamba-Ku adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Ia adalah untuk-Ku.” (Hadist Qudsi). Artinya, di dalam pelaksanaan ibadah shaum ini, lebih didominasi oleh dimensi vertikal kpada Allah. Ia terkait dgn hati yang ikhlas. Hanya Allah yang mengetahui ibadah shaum yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya. Diterima atau tidaknya tergantung pada niat yang ikhlas. Maka ramadhan ini sudah sepantasnya kta jadikan sebagai bulan latihan keikhlasan. Melakukan sesuatu hanya karena mengharap ridho Allah semata.

Ketiga, ramadhan adalah bulan untuk melatih kesabaran

Kesabaran artinya tabah, ulet, tahan uji, tidak emosional, tidak mudah putus asa. Karena yang akan memenangkan perjuangan sesungguhnya hanyalah orang-orang yang sabar. Begitu banyak contoh golongan sedikit mengalahkan golongan banyak karena kesabaran. Karena kesabaran yang akan membuat diri kita tahan uji di dalam menghadapi berbagai macam tantangan hidup apapun. Karena sesungguhnya Allah SWT selalu bersama dengan orang-orang yang sabar.

Keempat, ramadhan melatih kita untuk berbagi terhadap sesama.

Kita latih diri kita untuk memiliki semangat berbagi. Menebarkan sebanyak-banyaknya manfaat, baik itu harta, tenaga, dan pikiran kepada sesama.  Yakinlah, balasan bagi orang-orang yang dermawan adalah tak terhingga, apalagi di bulan ramadhan ini. Karena orang yang dermawan akan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan surga. Sebaliknya, orang yang bakhil, kikir, dan pelit akan jauh dengan Allah, jauh dengan manusia, dan dekat dengan neraka.

Misal balasan memberikan makan bagi orang yang berbuka adalah setara dengan orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa.  Yakinlah bahwa tangan di atas jauh lebih baik daripada tangan di bawah. Maka mari kita latih diri kita menjadi pribadi yang dermawan.

Terakhir, Ramadhan adalah bulan untuk melatih kedisiplinan waktu

Di antara 24 jam, ada prime time (waktu utama) yaitu waktu sahur. Sahur memiliki 3 dimensi, yaitu dimensi makan, dimensi waktu, dan dimensi ibadah. Sahur sudah sepatutnya kita manfaatkan untuk bermunajat kepada Allah, menangis taubat kpada Allah, memohon ampun kepada-Nya. Bukan kita gunakan untuk tertawa-tawa hingga melupakan esensi dan keutamaan waktu sahur. Karena saat sahur, rahmat Allah turun ke bumi.

Di antara 1 tahun, ada waktu terbaik, yaitu 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Maka mari kita manfaatkan untuk ibadah, i'tikaf di masjid. Juga malah kita gunakan waktu terbaik tersebut untuk hal-hal keduniawian. Sungguh kita sangat merugi jika itu terjadi. Mudik pun sebaiknya jugan sampai mengganggu waktu ibadah kita. Malah membuat kita tidak shaum, dan meninggalkan prime time. Boleh mudik, tapi programkanlah mudik yang bijaksana sehingga kita bisa tetap memaksimalkan waktu-waktu terbaik di bulan Ramadhan. 

Demikian kultwit Tarhib Ramadhan ini. Marhaban ya Ramadhan. Semoga kita bisa memanfaatkan seluruh kesempatan untuk capai derajat takwa.

Wallahu a'lam bi ash shawwab.


Belajar Dari Ibrahim dan Ismail

29/06/13

Oleh Erwyn Kurniawan


Di Hari Keluarga Nasional ini, saya akan kultwit tentang “Belajar Dari Ibrahim Dan Ismail”. Kebanyakan dari kita termasuk orang yang siap menikah tapi tak siap menjadi orangtua. Kita hampir sama sekali tak mempersiapkan diri jika kelak menjadi seorang ayah atau ibu. Saat hendak menikah, kita lebih disibukkan dengan segala hal yang berhubungan dengan akad dan resepsinya. Kita sibuk dengan desain undangan, siapa yang diundang, menu apa yang disajikan, maharnya apa, bagaimana pelaminannya, dan sebagainya. Dan mayoritas dari kita luput untuk belajar bagaimana cara kita menjadi orangtua, bagaimana cara mengasuh anak. Singkatnya tentang parenting.

Tanya kepada pasangan yang akan nikah. Mengapa menikah? Jawabannya kebanykan karena sunnah Rasul, ingin keturunan, dan menyempurnakan setengah agama. Tak ada yang salah dengan jawaban tersebut karena memang semuanya benar sesuai dengan yang diajarkan Islam. Jawaban tersebut terasa kurang sempurna karena ada satu jawaban yang belum diberikan yakni untuk membangun keluarga yang menjadi role model. Kenapa jawaban semacam itu tak terlontar? Ya itu tadi, karena memang kita tak pernah siap menjadi orangtua, hanya siap menikah. Indikasi kuat bahwa kita tak siap jadi orangtua adalah terlihat saat kita mendidik anak: dari kecil hingga dewasa.

Dalam mendidik anak, kita mengacu pada pola asuh yang diwarisi orangtua kita atau eksperimen (trial and error). Karena orangtua kita mendidik dengan cara keras, maka kita pun menggunakan cara serupa pada anak kita. Itulah warisan. Pola asuh anak pertama, kedua dan ketiga sampai seterusnya cenderung berbeda. Itulah eksperimen. Karena pola asuh kita semacam itu akhirnya kita pun termasuk orangtua tipe pemadam kebakaran. Baru beraksi saat masalah timbul. Kita baru beraksi saat tahu anak memakai narkoba, sering ke warnet, merokok atau bahkan menghamili anak orang. Naudzubillah…

Ironisnya, amarah membuncah. Dan dengan mudahnya kita menyalahkan mereka, anak-anak kita sebagai terdakwa dari masalah yang timbul. Padahal anak-anak kita tak salah. Ketika mereka lahir dalam kondisi fitrah. Kita lah yang menjadikan mereka nasrani, yahudi, majusi. Pola pendidikan kitalah yang membuat mereka jadi anak yang hobi merokok, boros, melawan orangtua, memakai narkoba, tak mau belajar, dll.


Kita sangat perlu belajar dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail jika ingin keluarga kita menjadi role model. Ribuan. Ilmu parenting dahsyat yang sangat fenomenal dan karena itu menjadi penting diiikuti ketika Nabi Ibrahim berdialog dengan Nabi Ismail soal mimpi...


Sepucuk Surat LHI Untuk Putrinya

03/06/13

Ananda Qaanita yang ayah sayangi,
Assalamualaikum Wr. Wb
Kalau dalam surat ayah sebelumnya ada cerita tentang ayah yang bermimpi bertemu mama dalam suasana bahagia,rabu pagi tadi setelah solat malam dan solat subuh, ayah tidur lagi (padahal janjian olah raga bareng) dalam mimpi pagi di hari rabu ayah melihat ketabahan dan kesabaran mama menanti ayah yang sedang menjalankan banyak pekerjaan dengan dua anaknya yang masih kecil-kecil entah siapa mereka, abang dan anit yang masih kecil kah atau anit dan najiah yang masih bayi … Meskipun nampak letih dan lelah juga bรชte tapi wajahnya yang imut-imut memancarkan ketabahan dan kesabaran dalam penantian… menanti ayah membantu meringankan tugas-tugas yang sedang ia jalankan… suasanannya seperti di Eropa atau mungkin di sebuah guest house di Islam abad…
Perjalanan hidup mamamu spectacular, tidak ada satupun ikhwahpun di Indonesia ini yang pernah mengalami apa yang pernah di jalani mamamu dia adalah wanita baja di hadapan terpaan ujian rintangan dan terpaan selain beribu penderitaan hidup sedikitpun dia tak pernah mengeluh saat kesulitan melanda, dan dia juga tidak pernah bangga saat banyak kemudahan yang terbentang dalam kehidupannya… kesabaran yang begitu dalam saat menanti berbagai uraian dari rangkaian perjalanan panjang yang spektakuler, tragedi2 kehidupan yang tidak pernah dia bayangkan bahkan tidak pernah muncul dalam mimipi-mimpinya saat belu ayah nikahi di tahun 1984 Januar 11, kadang tiba juga uraian latar belakang dan tujuan dari ribuan tanda tanyannya yang ada di benaknya, walau hanya sedikit, walau tidak segitu gamblang walau masih banyak yang belum ia dapat…
Tapi mamamu selalu menganalisannya sendiri, menemukan jawabannya sendiri dan menentramkan jiwannya sendiri dari rasa penasaran dalam mendampingi perjalan panjang ayah sejak tahun 1989 di luar negri
Mamamu selalu siap melangkah membawa badannya yang imut-imut dengan menggendong putra-putrinnya yang selalu ceria untuk mengikuti ayah berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain bahkan dari satu Negara ke Negara lain…
Belum lagi antara 1984- 1989 dari suatu lingkungan keluarga yang ramah ke keluarga yang tidak memiliki keramahan dalam memperlakukan mama dia hanya diam tersenyum pahit sambil nyubit-nyubitin ayah, kadang sambil cemberut lalu menggigit-gigit ayah untung bibirnya tipis, jadi ayah bias nahan rasa sakit
Mamamu adalah teladanmu, dalam hal kesabaran, mamamu adalah maha gurumu dalam hal ketabahan, mamamu adalah panutanmu dalam hal keuletan….katakan kalimat-kalimat ini pada saudara-saudari anit… Kreasi dan inovasinya tidak pernah pudar dalam berbagi situasi yang harus dia hadapi, untuk memecahkan kebekuan suasana, untuk mencairkan gunung es kejenuhan tatkala ayah sedang jauh dari sisinya…
Putra putrinnya menjadi muara nilai-nilai dan mutiara hikmah yang dia peroleh dalam tafakurnya memahami jalan hidupnya, mendampingi suami, berjuang bersama suami, membekali kebutuhan perjuangan suami… hingga tahun-tahun terakhir ini sebelum ia memunculkan kreasi dan inovasi baru yang tidak sepenuhnya mengagumkan ayah dan tidak seluruhnya melegakan ayah yaitu sejak ayah masuk dunia politik.
Padahal air politik adalah bagian yang tidak bias di pisahkan dari mata rantai perjalanan dan perjuangan ayah sejak sebelum menikah hingga menikah, hingga punya anak banyak… hingga ayah di kuburkan… siapapun yang nanti mati duluan… itulah nit mengapa ayah begitu mencintai mamamu lihatlah tak satupun saudari-saudarimu yang tidak mewarisi sifat-sifat mamamu, walau mereka ada yang secara expresi menyuarakan pandangan dan pikirannya pada ayah secara lantang tapi itu hanya expresi setiap dari kepribadiannya, mereka tidak selalu menyertai expresinnya tapi menyertai kepribadian yang di tumpahkan mamamu…
Inilah mamamu di mata ayah anit dan itulah mamamu di hati dan kehidupan ayah nit… ayahpun berkerap, berharap, dan berdoa… begitulah pula putra putri ayah bagi pasangan hidupnya masing-masing nanti dalam menghadapi terpaan dan ujian di sepanjang Jalan Allah SWT saat ini dan nanti…

Kumpulan Status FB Penuh Hikmah dan Inspirasi

29/04/13


Oleh Hj. Nurjanah Hulwani


1. “Siapa yang menyerahkan jiwanya untuk agamanya, maka ia akan melalui hari-harinya dalam kelelahan akan tetapi ia kan hidup dan mati dalam kemuliaan” (Syaikh Ahmad Yasin, Gaza).

2. Terkadang celotehan kita tak terkendali saat kita membanggakan kehebatan diri kita sendiri dengan meremehkan orang yang sedang kita ajak bicara. Kita mengakhiri komunikasi dengan membawa kepuasan hawa nafsu, sedangkan orang yang kita remehkan membawa rasa sakit hati, bahkan dendam yang bisa jadi do’a-do’a terijabah karena menjadi objek kezaliman. Semoga kita selalu dapat menuntun lisan kita dengan kata-kata baik yang mendatangkan ketentraman bagi yang mendengarnya.

3. Kedewasaan dalam mengarungi perjalanan dakwah adalah tidak mudah mengeluh saat bertemu kesulitan yang bertubi-tubi. Bisa jadi kesabaran saat bersama kesulitan akan membuahkan hasil kebaikan yang berlipat. Seperti kisah Ghulam dalam Ashabul Uhdud, kerelaan dan kesabarannya menerima hukuman gantung sebagai konsekwensi dakwahnya ditanah lapang yang disaksikan kerumunan masyarakat membuahkan hasil yang berlipat yaitu, semua yang menyaksikan menyatakan keimanannya kepada Robbnya Ghulam dengan kata-kata : “Aamanu bi Robbil ghulam”

4. Amal kebaikan yang sedang kita jalani baik yang mudah atau sulit, yang menyenangkan atau menyedihkan, semoga bisa menjadi sejarah perjalanan hidup kita kelak yang bisa diwarisi dan diteladani oleh generasi setelah kita.

5. Intensitas silaturahim yang terus-menerus membuat orang lain menyukai yang kita sukai (Cinta, Kerja dan Harmoni).

6. “Keawaman kami sebagai muslim yang membuat kami banyak melanggar perintah-Mu, mudahkanlah bagi kami merubah keawaman kami menjadi santri. Dan dari santri menjadi ulama agar kami menjadi muslim yang selalu mentaati-Mu.”

7. Kerja dakwah begitu banyak dan luas, dengan atau tanpa jabatan struktur kita akan terus dan terus bekerja.

8. Obrolan sehari-hari kita sangat terkait dengan kondisi ruhi kita, jika ruhi kita kuat maka yang menjadi obrolan seperti yang saya dengar dari muslimah Gaza : “Saya sudah hafal 25 juz tinggal, 5 juz lagi.” Saya ikut wisuda diiringi dengan senyum bahagianya” (Umu Ibtisam sekitar 45 tahun). Sedangkan yang lemah ruhi biasanya obrolannya seputar keduniaan seperti ungkapan : “Sudah ganti BB terbaru?” (berpacu dengan gaya hidup yang terus berkembang)

9. Selama kita selalu melibatkan Allah SWT dalam semua ativitas kita jangan pernah khawatir dengan kesulitan dan rintangan yang kita hadapi. Allah SWT pasti punya cara sendiri untuk membantu kita menyelesaikan kesulitan yang kita hadapi. Bagi kita tidak mungkin bagi Allah SWT bisa mungkin (kisah terbelahnya lautan untuk menolong Nabi Musa As).

10. Penglihatan dan pendengaran Allah SWT tak dibatasi oleh jarak dan waktu, dan kita tidak akan pernah luput dari penglihatan dan pendengaran-Nya. Semoga kita selalu bersikap dan bertutur kata yang baik dimanapun kita berada.

11. Kompromi dengan kekurangan diri membuat kita terjaga dari sifat merendahkan orang lain (baik dengan hati dan bahasa tubuh)

12. Waktu adalah kehidupan. Sangat indah kata-kata seorang penyair : “Jika engkau tidak menanam dan bertemu orang yang sedang memanen, engkau akan menyesali penyia-nyiaan waktumu pada musim tanam.”

13. Kegelisahan biasanya terjadi karena kita tidak berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku, baik itu aturan Allah SWT atau aturan organisasi yang sudah disepakati dari hasil syuro (musyawarah) dalam realisasinya dilanggar.

14. Nilai dirimu bukan pada posisimu, tapi pada seberapa besar kontribusimu dalam dakwah.

15. Buah mendisiplinkan amalan sunnah dipertiga malam, ruh kita akan selalu terbangun dengan alarm ilahiyah. Semoga keistiqomahan selalu bersama kita.



Saya Bangga Berada Di Barisan Dakwah Ini

21/04/13




#Sharing 15 Tahun PKS 
Oleh Akmal Sjafril
@malakmalakmal




Menyambut 15 tahun PKS, saya ingin ikut berkontribusi. Sekedar sumbang cerita. Saya bukan Qiyadah, karena itu, saya tidak ikut Rapimnas ke Semarang. Jadi, nge-tweet aja deh. Di PKS, saya bukan siapa-siapa. Anehnya, kalau ada apa-apa soal PKS, ada aja yang nanya ke saya. Ini bukan kasus saya saja. Diam-diam, banyak sekali kader PKS yang mengalami hal yang sama. Mereka, seperti saya, cuma kader biasa. Tapi kalau ada berita soal PKS, di mana-mana responnya luar.

Banyak yang bukan kader PKS tapi kalau bicara soal PKS heboh sekali. Lebih heboh daripada kader-kader PKS. Sekilas, mereka kelihatan banyak tahu daripada kader-kader PKS. Lucu juga sih. Ketika ada isu “faksi keadilan” dan “faksi sejahtera”, siapa yang heboh? Kader, gitu? Paling maksimal, kader PKS hanya keheranan. Dari mana datangnya isu faksi macam-macam begitu? Ada juga slogan yang sering diulang-ulang: “PKS sudah ditinggalkan kader-kader aslinya!” Siapa yang heboh mendengar berita seperti ini? Kader? Ciyus? Enelan? :p

Tapi bohong juga kalau saya, anak bawang di gerbong dakwah ini, mengaku tidak pernah gamang. Saya pun, seperti anak-anak bawang lainnya, pernah gamang mendengar dan membaca berita-berita soal PKS. PKS ditinggalkan kader-kader aslinya! Bukan main bombastisnya berita ini! Tapi apa benar? Sampai akhirnya saya hadir ke acara Milad PKS (tahun berapa? Lupa). Ternyata, kader-kader lama masih aktif aja tuh. Kader-kader meninggalkan PKS? Ada, tapi kata siapa banyak? Banyak itu berapa persen? Berapa banyak, sih?  Saya pun mengenal beberapa orang yang benar-benar pernah jadi kader PKS dan sekarang telah keluar.  Alhamdulillaah, setelah mengenal mereka, saya makin yakin untuk tetap berada di PKS.

Hal lain yang menarik adalah betapa banyak orang salah sangka mengenai kader-kader PKS, terutama tentang cara kami memandang PKS. Banyak orang berpikir bahwa bagi kami PKS adalah segala-galanya. Seolah-olah tiap hari, tiap jam mikirin PKS. Malah saya heran, karena yang benci banget sm PKS itulah yang lebih banyak mikirin PKS. Tidak, isi kepala kami bukan PKS melulu. Allah dan Rasul-Nya, Islam, dakwah, tarbiyah, itulah yang menyita pikiran kami.  Percaya atau tidak, baru beberapa tahun terakhir saja saya punya atribut PKS.

Tahun lalu akhirnya saya punya baju PKS berwarna putih. Sengaja beli supaya sesuai dengan dress code Milad di GBK. Punya atribut PKS memang nggak penting2 amat. Toh, di mata sebagian orang, tetap saja saya identik dengan PKS. Kampanye? Walah, saya males banget ikutan yang beginian. (mudah2an nggak di-iqob!) :D

Kalau ada kampanye, biasanya diawali dengan taujih. Nah saya datang untuk dengerin yang satu itu!  Atau, beberapa tahun terakhir ini, biasanya ada senam. Ini juga asyik untuk diikuti. Bikin sehat.  Kampanye keliling kota? Hmmmm belum pernah tuh... (ampuuun saya kader yang bandel!) Makanya saya heran kalau orang berpikir bahwa kader-kader PKS selalu mikirin PKS. Islam lebih luas daripada PKS, bro! 

Itulah sebabnya sampai sekarang saya temukan ada saja orang yang terkaget-kaget dengan eksistensi kader-kader PKS. Misalnya, kaget begitu mengetahui bahwa bosnya di kantor adalah kader PKS. Ada juga yang kaget ketika mengetahui bahwa tukang mie ayam langganannya ternyata kader PKS. Pengurus DPC pula! Ngomong-ngomong, mantan supir antar jemput langganan saya waktu TK sekarang jadi sesepuh PKS di daerahnya juga. Di PKS ada pengusaha, programmer, dosen, tukang sayur, montir, kartunis, dan sebagainya. Mantan preman juga ada! Mereka jarang pakai atribut PKS atau bahkan hampir tak pernah bicarakan PKS. Ada temen kuliah yang bilang, “Kalo ada mahasiswa cakep dan alim dikit aja, gak jauh2 deh dari PKS!” Dia termasuk yang gak nyadar kalo saya juga kader PKS. Padahal saya kan sesuai banget dengan deskripsi tadi. :p

Tidak semua kader PKS itu sibuk di PKS. Banyak yang kesibukannya di luar PKS. Mereka yang menonjol di bidangnya masing-masing biasanya dibiarkan aktif di luar partai. Sebab memang di situ lahan dakwahnya. Salah satu karakter penting dan kunci sukses PKS adalah jati dirinya sebagai partai kader. Setiap kader, tanpa kecuali, harus mengikuti program tarbiyah. Ada alurnya, ada kurikulumnya. Nggak ada ceritanya orang baru masuk PKS tau-tau udah jadi anggota Majelis Syuro, misalnya. Makanya, kalo ada yang nyinyir menuduh kader-kader PKS ingin kejar jabatan, ya kita nyengir aja deh. Mau jadi Ketua DPC? Boleh. Udah apal berapa juz? Mau jadi Presiden PKS? Boleh juga. Udah apal berapa juz? :D  Hapalan mentok di Juz 30? Hmm….waiting list deh ya, 1.000 taun lagi! wkwkwkwk

Di PKS, mengajukan diri tidak dibudayakan, bahkan tidak diperbolehkan. Kalau ada yang ajukan diri jadi Presiden partai, insya Allah dia takkan jadi presiden selama-lamanya. Soal menolak jabatan, kader-kader PKS paling jago. Ini partai paling nggak jelas, emang. LOL

Syahdan, ada seorang ustadz yang ditunjuk untuk jadi caleg. Panik, beliau langsung melancarkan lobi2 maut supaya penunjukannya dibatalkan. Supaya dibatalkan, lho! Lobi-lobi gagal, mental semua. Alasannya: kalau 1 orang boleh mundur tanpa alasan syar’i, ntar semua pengen ikutan. Alhasil, keluarlah jurus terakhir. Infaq! Yak, beliau berjanji akan infaq dalam jumlah besar. Syaratnya, dia gak disuruh jadi caleg! Gimana akhir ceritanya? Hehe rahasia ah... yang jelas, keanehan-keanehan macam begini memang ada aja di PKS.

Kaderisasi di PKS mmg gak sembarangan. Yang pasti, semua kader wajib ngaji. Minimal sekali sepekan. Kenapa? Ya, supaya kondisi ruhiyyahnya di-charge terus. Kalau jiwanya hidup, yang lain ngikut. Pengajiannya sekali sepekan, tapi tarbiyah dirinya setiap hari. Ini justru yang paling penting. Waktu saya baru mulai ngaji, sempat keheranan juga. Ibadah aja kok sistematis banget. Biasanya, shalat-shalat sunnah itu ya tergantung selera aja. Tapi di PKS, semua dilatih. Kalo bisa dibikin sistematis, kenapa nggak? Tilawah, shalat dhuha, qiyamul lail, shaum sunnah, semua terencana. Gimana kalo latihannya nggak niat, sehingga gak ada progres? Ya gak apa-apa sih, tapi gak bakal maju-maju kalo gitu. Semakin besar amanah, semakin kencang fitnahnya. Maka, pegangannya harus makin kuat. Setelah dapat amanah besar malah gak ada waktu untuk ibadah harian? Yang kayak gitu bisa ‘ditarik’ kapan aja. Almarhumah Bu Yoyoh Yusroh, ibu dari 13 orang anak merangkap anggota DPR, tilawahnya 3 juz sehari.

Kenapa? Ya, tilawah 1 juz sehari itu standar kader biasa, bro. Bukan beliau aja. Banyak ustadz/ah lain yang ibadah hariannya tidak kalah ‘mengerikan’. Tapi tak usahlah disebut-sebut. Untuk beberapa fungsionaris seperti anggota DPR, memang ada pengecualian. Bisa saja orang menjadi aleg FPKS dari ‘jalur profesional’. Artinya, ia direkrut karena keahliannya, meski tidak ada background ‘ngaji’. Kok bisa? Ya, soalnya di PKS, aleg itu bukan ‘raja-raja kecil’. Mereka adalah pion-pion partai. Tugas mereka adalah menjalankan amanah dari partai. Tidak amanah? Tegur! Ngeyel? Pecat! Beresss.

Itulah mungkin salah satu sebabnya mengapa di PKS jarang ada konflik internal. Sebab, seluruh fungsionaris partai adalah pelaksana amanah dari partai. Tidak boleh membawa kepentingan pribadi. Beda pendapat itu biasa, tapi diselesaikan di syuro. Selepas syuro, tidak ada pendapat selain pendapat syuro.

Ada evaluasi atau otokritik? No problem. Dibahas lagi di syuro. Nggak ada yang ngomong “Gw bilang juga apa....!?” Kader-kader PKS, karena memang hidupnya bukan hanya di PKS, mencari nafkah pun tidak di PKS. Meski ada yang secara profesional digaji oleh partai, tapi penghasilan utamanya bukan di situ. Partai adalah sarana dakwah, bukan sarana memperkaya diri. Kalau PKS gelar aksi munashoroh Palestina di sekitar Bundaran HI, misalnya, berangkat dengan dana sendiri-sendiri.  Ada sih yang nyewa bis dengan ongkos dari partai. Ada juga yang makan siangnya dikoordinir. Tapi nerima amplop sih nggak deh. Udah capek-capek ke lokasi, berpanas-panas, teriak-teriak, eh disuruh infaq pula! Itu sih biasa di PKS. Biarpun kondisi kadernya macem-macem, gak saling iri. Yang miskin gak dengki sama yang makmur. Makanya, waktu ada omongan, “kasihan kader-kader yang miskin melihat qiyadah yang kaya-kaya”, saya bingung. Kader yang mana? Kader mana yang suka ngiri dengan kemakmuran saudaranya? Kader yang sering bolos ngaji kali yee…

Padahal, semua orang sudah tau bahwa makin banyak sedekah, makin lancar rejekinya. Jadi, kalau ustadz-ustadz pada makmur, ya gak usah curiga. Infaqnya juga gede-gede. Wajar rejekinya lancar. Ust. Lani, tokoh senior di PKS, juga pernah bilang begitu. Biasanya, yang makmur-makmur itu ya yang infaqnya gede-gede. Gak usah ngiri. Apa ada buktinya? Ah, ntar kalo disodorin bukti dan saksinya, malah dituduh riya’ lagi... Gak usahlah... :D

Di PKS, tradisinya ‘jemput bola’, bukan menunggu. Semua kader harus proaktif. Jadi jangan heran, ketika PKS ‘disentil’, Presiden PKS langsung berorasi. Mesin partai segera bekerja.  Biarpun partai kecil, tapi semua proaktif. Gak perlu instruksi. Semua bekerja dengan caranya masing-masing. Kader-kader PKS dari Sabang sampai Merauke, di dalam dan di luar negeri, semuanya bekerja.

Tak terasa, sudah  15 tahun PKS. Rasanya baru kemarin berdiri. Waktu itu saya masih SMA. Masih bejibun PR yang belum tuntas. Tantangan dari hari ke hari makin berat. Ini sunnatullaah untuk gerakan dakwah. PKS masih banyak kekurangan. Kader-kader PKS paling tahu soal ini. Kader-kader PKS tumbuh dewasa bersama jama’ahnya. Tidak ada yang tiba-tiba. PKS seperti anak macan yang baru lahir ‘kemarin’. Perlahan-lahan, taring dan kukunya tumbuh. Tapi gak usah takut, karena macan yang satu ini punya slogan yang sangat simpatik: Cinta, Kerja dan Harmoni :)

Saya bangga berada di barisan dakwah ini, meski saya bukan siapa-siapa.

Allaahu Akbar!!! 


Kumpulan Status Hikmah

05/04/13

Kumpulan Status Hikmah dari laman Facebook Aleg PKS DKI 
Hj. Nurjanah Hulwani


#1. Selama kita masih bersama kesehatan jangan sia-siakan kesempatan yang kita miliki untuk memberi banyak kebaikan (akhirat) buat diri, keluarga dan masyarakat. Istirahat kita saat Allah SWT kurangi jatah sehat kita (ujian sakit) dan saat sakit pahala kebaikan yang bisa kita dapatkan jika kita ikhlas menerimanya dan sabar menjalaninya. Dari bolak balik ke dokter, minum obat, terapi dan lebih banyak istirahat dari pada beraktivitas dan tentunya saat-saat sakit kita masih bisa memakismalkan ibadah harian kita karena waktu kosong lebih banyak. Hindari mengeluh yang tidak penting, raut wajah yang menyusahkan yang mengurusi kita.

#2. Komentar, statment dan pendapat seseorang terasa berbobot (berkualitas), berkesan dan tersentuh di qalbu. Bisa jadi karena kedalaman ilmunya, banyak karya kebaikannya juga karena kekuatan ruhinya (hubungannya dengan Allah SWT begitu harmonis).

#3. Setiap kata yang keluar dari lisan kita terrekap dengan apik disisi-Nya, baik perkataan yang baik maupun yang buruk, kecuali yang sudah bertaubat kata yang buruk terdelete dengan sendirinya. Karena itulah semoga kita bisa membuat lisan kita selalu bersama ketaatan yaitu berkata baik atau diam atau seperti yang diungkapkan Imam Syafi’i: “Allah SWT menciptakan kita dua telinga satu mulut”, maknanya mestinya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.

#4. Buah mendisiplinkan amalan sunnah di pertiga malam, ruh kita akan selalu terbangun dengan alarm ilahiyah. Semoga keistiqomahan selalu bersama kita.

#5. Terkenal karena kesolehan dan banyak karya kebaikan yang dilakukan merupakan buah yang bisa dipetik didunia dan kesempurnaan buah-buah lainnya dipetik diakhirat kelak. Seperti yang telah torehkan dalam sejarah Nabi Muhammad SAW, para anbiya dan salafussaleh. Dan keterkenalannya membawa banyak orang kembali kepada ketaatan.

#6. Menjadi donatur kebaikan tidak selalu dengan materi (harta) karena tidak semua kita diuji dengan kelebihan harta. Kita bisa melakukan dengan apa yang dianugrahi Allah SWT kepada kita seperti tenaga (karena Allah selalu memberi kita kesehatan dan fisik yang kuat), waktu yang luang dan networking kita yang luas. Jangan biarkan anugerah-anugerah tersebut hanya bermanfaat untuk diri dan keluarga kita (zona nyaman). Diluar kita menunggu uluran tenaga, waktu, ilmu, jabatan dan networking kita untuk menyelamatkan mereka dari kebodohan, kelaparan dan kemaksiatan. Semoga kita dimudahkan Allah SWT merealisaikan sabda Rasullullah SAW: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang lebih bermanfaat bagi orang lain.” (H.R. Bukhari)

Apakah Senyummu Bernilai Sedekah?

02/04/13


Oleh : Ustadzah Nurjanah Hulwani


Bersedekah yang paling murah adalah dengan memberi senyum kepada saudaranya saat bertemu. Senyum sedekah tentunya berbeda dengan senyum yang bukan sedekah. Senyum sedekah muncul dari innerbeuty Illahiyah (kebersihan hati), senyum sedekah diberikan untuk semua (rahmatal lil ‘alamin). Tidak di batasi oleh perbedaan pendidikan, jabatan, kecantikan, kekayaan dan status sosial. Senyum sedekah akan menghadirkan ta’liful qulub dan senyum sedekah mempererat persaudaraan (ukhuwah).

Sedangkan senyum yang bukan sedekah muncul bukan dari ketulusan tapi punya niat yang lain, tersenyum agar dagangannya laris, tersenyum untuk memberikan pelayanan yang baik bagi customer agar tidak kecewa (karena sudah membayar mahal), tersenyum agar dapat pujian dari lawan jenis, tersenyum agar dibilang ramah. Dan senyum yang bukan sedekah hanya bisa tersenyum untuk orang-orang tertentu saja.

Misalnya, dia bisa tersenyum kepada atasannya tidak kepada bawahannya (karena tidak memberi pengaruh apa-apa), ia hanya mampu tersenyum hanya kepada yang sama-sama kaya, sama-sama punya jabatan, sama-sama terkenal sedangkan kepada yang miskin, yang tidak punya jabatan dan yang tidak berpendidikan senyum itu menjadi mahal dan sulit untuk dilakukan kalaupun dilakukan bisa jadi setengah hati. Dan yang saya maksud senyum yang bukan sedekah bisa jadi ia bisa tersenyum manis saat berdagang, saat melayani customer dan saat meeting dengan atasan, tetapi kepada anak, suam/istri, pembantu dan sopir yang mestinya yang pertama mendapatkan senyum sedekah menjadi terabaikan.

Sebaliknya senyum sedekah karena diawali dengan ketulusan dimanapun dan kapanpun senyum sedekah mudah terwujud baik saat bekerja melayani customer, saat meeting dengan atasan atau saat bertemu anak, suami/istri, pembantu dan sopir tak ada perbedaan. Tentu yang saya maksud senyum sedekah disini adalah keberadaan kita dimanapun membuat orang ada di dekat kita merasa tentram, tenang dan tidak ada jarak walaupun ada perbedaan pendidikan, usia, popularitas dan status sosial.

Semoga kita bisa merealisaiskan makna ayat “ukuran kemulian pada ketakwaan (bukan keduniaan)” dan juga makna ayat “kita hadir untuk memberi rahmat bukan laknat.”  ■


Jejak Ikhwah "Negeri Barongsai" di Pulau Bangka

27/03/13



Oleh @kingkin_wardaya


Ada hal yang menarik pada jaulah supervisi  di Bangka Belitung kali ini. Diantara para ketua kaderisasi DPD yang hadir, nampak seseorang dengan wajah oriental dan bermata sipit, “Loh kok ada orang Chinese??” tanyaku di dalam hati.

Di saat bersalaman dengannya, kusebut namaku “ana Kingkin”, “ana Fajar tadz...”, jawabnya.

Rasa penasaran masih menggelayut di qalbu-ku. Pada saat jam istirahat, kami (aku dan Ust. Asfuri) diajak panitia makan siang di salah satu rumah makan. Dalam perjalanan menuju lokasi, sempat ku tanyakan perihal ikhwah tersebut kepada salah seorang pengurus DPW yang mendampingi kami makan siang.

“Akh, sepertinya tadi ada orang Chinese yah?” tanyaku penasaran.

“Oh, itu Muhammad Fajar, ketua kaderisasi DPD Bangka Induk. Beliau memang asli orang Cina tadz, nama aslinya Chin Fan Tu, beliau sudah KI” jawabnya.

“Oh, gitu.. Subhanallah..” sautku dengan nada ta'jub.

“Di sini beberapa pengurus kita memang asli orang Cina, tapi muslim” lanjutnya.

“Cina turunan bukan?” tanyaku.

“Asli tadz.. Bukan blasteran atau keturunan cina, asli bener-bener cina” tegasnya.

“Selain beliau, ada juga Lin Shin Fin, beliau ini ketua DPC Bukit Intan, di Bangka Induk juga. Beliau pengusaha ikan, beliau juga salah satu yang kita jadikan caleg DPRD tk. 2, meskipun belum ikut liqo” tambahnya.

“Kenapa belum mau ikut liqo?” tanyaku kembali.

“Ya disini tuh tadz nggak gampang ngajak orang ngaji. Alasan beliau sih selama ini belum ada waktu luang karena urusan bisnis beliau. Meskipun beliau ini sangat loyal kepada kita. Beliau kan juragan ikan, kalo ana ke pasar ikan pas pagi-pagi, dia itu tanpa sungkan dari jauh sudah teriak, “ustadz.. Ustadz.. Cari ikan apa?”. Nanti tuh tanpa kita minta, ikan apa aja dimasukin ke plastik trus dikasih deh ke kita...” tuturnya diiringi tawa.

“Trus kalo urusan kontribusi maaliyah juga luar biasa, beliau nggak pernah perhitungan... Bahkan beliau sebenarnya nggak mau dicalonin jadi caleg, beliau berkeinginan fokus dengan usahanya saja, tetapi beliau selalu siap kalo diminta bantuan dana ataupun mengerahkan potensi suara masyarakat untuk PKS, terutama dari kalangan Chinese. Tapi justru kita yang agak maksa supaya dia mau maju jadi caleg, kita bilang yang penting ente jadi dulu deh urusan setelah itu minta di-PAW, gampang lah...” sambungnya sambil diiringi tawa.

Masih menurutnya, “Kalo di Bangka Barat ada tuh namanya Bong Ming Ming. Beliau pengurus DPD Bangka Barat, sudah ikut liqo juga, beliau punya andil besar dalam pemenangan Ust. Zuhri sebagai bupati Bangka Barat, baik dalam hal pendanaan maupun sebagai vote getter. Profesi beliau ini sebagai pengusaha, utamanya sebagai pemborong property, tapi beliau saat ini lagi di Papua urusan bisnis, jadi nggak bisa ikut acara kita tadz..”.

Kurang lebih demikian yang dituturkan oleh akh Ismail, salah seorang pengurus DPW Bangka Belitung.

Subhanallah walhamdulillah, ternyata ni'matud da'wah wani'matul jama'ah di negeri ini juga dirasakan oleh orang-orang dari negeri barongsai.

Ikhwah fillah, cerita ini hanyalah segelintir kisah dari banyak kisah yang mungkin belum terungkap. Semoga sedikit kisah tentang  mereka ini dapat menginspirasi kita semua dalam berkontribusi untuk da'wah dan bekerja keras memenangkan da'wah tanpa kenal henti, di setiap waktu, di setiap saat, dengan seluruh potensi yang kita miliki.

Imam Syahid Hasan Al-Banna berkata:

“Tidak ada istirahat bagi seorang da'i kecuali di surga”  
“Dan katakanlah (wahai Nabi): Bekerjalah kalian maka niscaya Allah akan melihat amal-amal kalian, begitu juga rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman...” (QS. 9 : 105)

Semoga bermanfaat.. ^_^


Spasi Kehidupan

26/03/13


Oleh Ust. Abdullah Haidir


Dulu, kita pernah diajarkan bahwa rel kereta itu harus diberi jarak /spasi satu sama lain, agar tersedia ruang utk memuai. Spasi dalam tulisan juga dibutuhkan untuk keindahan dan kemudahan memahami. Bayangkan kalau tulisan tidak ada spasinya. Begitulah kurang lebih yang juga kita butuhkan dalam hidup ini: spasi kehidupan. Ruang yang harus kita kosongkan untuk diisi sesuai kebutuhan.

Hidup ini sangat beragam, berwarna, berkelindan, penuh konsideran. Beratlah kala dipahami mutlak-mutlakan, serba dikotomis dan hitam putih. Spasi dalam kehidupan dapat kita maknai sebagai ruang permakluman, toleransi, ruang diskusi, mencari konsideran, mencari hikmah, dan lain-lain. Ketika kita melihat anak istri tidak menurut, langsung kita vonis mereka durhaka, itu pertanda kita tidak punya spasi kehidupan. Tapi, jika di tengah kekecewaan menghadapi hal tsb, kita tetap memberi ruang untuk memahami alasan mereka bersikap seperti itu, itulah spasi kehidupan.

Ibnu Mubarak berkata, “Jika istri dan hewan tunggangan saya tidak menurut, saya melihatnya sebagai indikasi ketakwaan yang sedang turun.” Ketika kita memuji seseorang, jangan lupa sediakan spasi dalam diri kita tentang sisi kemanusiaannya yang berpotensi salah dan khilaf. Sehingga jika memang suatu saat ada kesalahan yang terbukti dia lakukan, kita tidak berapologi atau berbalik 180 derajat memusuhinya.

Pun sebaliknya, jika kita tidak menyukai sikap seseorang, hendaknya tetap memberikan spasi untuk memahami alasannya, latar belakangnya, atau lainnya. Apalagi kalau masalahnya sangat terbuka untuk memberikan ruang interpretasi dan yang menyampaiknnya memilki kapasitas ilmu dan pengalaman.

Ketiadaan spasi kehidupan inilah yang menjadikan setiap perbedaan berujung dengan benturan, kata-kata keji atau bahkan kekerasan, dalam semua dimensi. Spasi kehidupan ini bukan berarti tidak punya prinsip. Prinsip itu harus, tapi terukur, tidak membabi buta serta tetap menghormati pihak lain.


Disarikan dari kultwitt  @abdullahhaidir1


PKS Tambora

Kabar PKS

 
© Copyright PKS Tambora 2011-2014 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com .